Sabtu, 12 November 2016

Dia





Lagi. Untuk yang kesekian kali. Aku berhadapan dengan situasi paling kubenci. Kenyataan yang tidak sejauh angan. Bermimpi mengikuti alur harapan namun jatuh terhenti di tengah jalan. Kali ini bahkan lebih sulit dari sekedar mengejar untuk kembali. Membuat keadaan seakan ikhlas melepas asa-asa kecil dengan perlahan.

Utuh namun hilang, tak ada namun masih. Mungkin itulah rasaku padanya saat ini. Terkadang aku hanya bisa menahannya untuk beberapa alasan yang sulit dijelaskan. Tak pernah terungkapkan, tenggelam, lalu terlupakan. Apa kau tahu, bagaimana rasanya menemani rasa sepi seseorang tanpa pernah menjadi pilihan bagi hatinya? Beberapa kali aku telah bertemu dengan berbagai pengharapan yang selalu berakhir dengan kekecewaan, termasuk dengannya. Semua terus berulang dengan pola yang sama. Tapi, entah mengapa dengannya aku tak pernah bosan.

Fikiran tentangnya selalu membayangi, bahkan setelah aku tersadar dari mimpi yang lelap. Dan mengapa ia selalu datang di saat yang tidak kuinginkan? Apakah keadaan memang sengaja melakukan ini terhadapku? Aku hanya berdiam sementara ia hadir membawa sisa rasa yang masih sama seperti dulu. Mungkin aku adalah peluka karena tak pernah membiarkannya tahu tentang perasaanku, tentang harapku, padanya. Lalu bagaimana dengan perasaannya sendiri? Kurasa fiksi telah membalikkan fakta, semua terungkap dari raut wajahnya yang tak pernah pandai membohongiku. Aku tahu dia pun melakukan hal yang sama dengan perasaannya. Linang air mata dan guratan senyum palsu, itu semua tertatap olehku. Kita sama-sama tak pernah mengungkapkannya hingga akhirnya terabaikan begitu saja.

Ini berat namun tetap kujalani. Karena aku sadar, luka itu akan indah bila kita melihatnya dari sisi yang berbeda. Terkadang melepaskan sesuatu adalah hal yang menyakitkan, tapi bisa saja itu menjadi hal yang melegakan. Biar saja rasa ini tumbuh seiring kehadirannya diharapku. Karena kita bisa mencintai sesuatu dan tetap membiarkannya pergi. Aku tidak pernah memaksanya untuk menjadi bagian dari hidupku. Aku hanya ingin menjadi bagian yang istimewa dalam kehidupannya. Cukup seperti itu. Dan kuharap dia tahu, bahwa namanya telah terselip dalam bait tulisanku sebagai kenangan.

Selasa, 06 Oktober 2015

Ombak Senja



Aku pernah tenggelam, terbawa oleh arus yang mengiringku kembali ke dalam dekapnya. Ombak yang masih sama seperti dulu. Tak ada yang berubah padanya kecuali keindahan hembusannya. Ia selalu menari bersama angin dan menyanyikan nada yang sama. Ombak senja yang kukenal pertama kali ketika menyusuri pantai.

Kali ini, aku kembali mendatangi tempat itu. Sekedar ingin mengetahui kabarnya. Ia menungguku seperti biasa di tepi pantai. Ombak biru itu menyapaku dengan ramah, menceritakan banyak hal dengan desirannya. membuatku terlarut dalam buai dan tak kuasa menghindari alunannya yang damai.

Aku mulai mencoba bermain dengan ombak. Kita sama-sama berjalan dengan langkah yang saling beriringan, menertawakan hal-hal yang tidak penting sambil menatap langit yang mulai senja. Kenangan-kenangan itupun seolah muncul kembali layaknya hujan di musim panas. Tak pernah kuharapkan, namun ia selalu datang membasahi kaki-kakiku.

Sebisa mungkin aku meyakinkan diriku untuk kembali. Sampai akhirnya rasa itu timbul. Rasa yang sama setelah sekian lama terlupakan dan terabaikan. Mengulang rindu yang dulu sempat terhempas oleh angin. Sungguh perasaan ini tidak main-main.

Tapi kenapa ketika semua itu terjadi, Ia tak membiarkanku tenggelam? Mungkin tidak ingin aku terseret oleh arusnya hingga terluka oleh karang. Haruskah aku pergi atau tetap di sini menunggu matahari terbenam? Entahlah... sikapnya seakan tak mengizinkanku untuk memeluk desirnya. Aku mencoba memahami tetapi basa-basi ini tampak seperti kebohongan. Riaknya yang kini menghanyutkan memunculkan prasangka seolah mengusir dengan halus. 

Semuanya menjadi semakin jelas. Langkahku begitu berat untuk meninggalkan tapi Ia membuat jejakku hilang dari permukaan. Aku tidak pernah bermaksud akan jadi seperti ini. Masih banyak hal yang ingin kubagi dengannya dan aku tak sempat membiarkannya tahu itu. 

Tapi satu hal yang pasti, rasa ini tak pernah hilang walau setitikpun.






Sabtu, 03 Januari 2015

Seperti Kemarin (Tentang Waktu, Kebersamaan dan Kenangan)




Apa yang bisa membuat kita merasa begitu bahagia? Saat berada di samping orang yang kita sayangi? Ataukah membuat kenangan-kenangan sebanyak mungkin dengannya hingga kita lupa waktu telah bergulir begitu cepat? Tidak terasa memang, kebahagiaan selalu berada di awal untuk mereka yang saling berbagi kebersamaan. Dan tentang bagaimana kita mempertahankan kebersamaan itu, bukanlah perkara yang mudah.

Kita pernah merasakan hal yang sama. Saat-saat seperti itu, menghabiskan waktu bersama, melakukan hal gila dan menyenangkan. Saling berbagi di saat suka maupun duka. Kita bahkan pernah berjanji untuk tak pernah saling meninggalkan dan meyakini janji itu. Semuanya terasa begitu indah seperti kemarin.

Ya, kemarin. Entah kenapa tiap kebersamaan yang kita lalui meskipun sudah lama tetap saja terasa seperti kemarin. Kita bahkan tidak menyadari bahwa waktu telah berjalan begitu cepat. Sampai pada akhirnya kesibukan masing-masing menjauhkan jarak antara kita, kita seperti lupa bahwa kita pernah berjanji untuk terus bersama bagaimanapun keadaannya, tapi kita sadar itu tidak bisa dipaksakan. Hingga akhirnya komunikasi yang tak berjalan baik benar-benar memisahkan kita. Kalau sudah begini, kita tidak bisa menyalahkan keadaan.

Terkadang dalam malam yang tenang, aku selalu bertanya, apakah kau merasakan hal yang sama denganku? Tentang kerinduan yang mencandui. Bagaimanapun kita pernah bersama dalam susah dan senang. Tangis, amarah, canda dan tawa pernah kita lalui bersama. Kenangan-kenangan yang kita ukir akan selalu ada dan tak akan pernah terlupakan. Kini yang kuharap hanyalah, suatu saat nanti kita bisa bersama dan saling berbagi lagi. Ya, semoga saja..

Tetapi satu hal yang kupahami. Pada akhirnya, waktu telah mengajarkan kita tentang indahnya arti kebersamaan. Detik terus berlalu, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Semuanya terus bergulir tanpa kompromi. Nikmatilah kebersamaan itu karena seiring berjalannya waktu, semua yang benar-benar kau punya hanyalah kenangan.

All the moments we make together are the best memories