Selasa, 06 Agustus 2013

Sisi Rasa



Di sini..
Di depan sebuah layar yang membosankan, aku menatap jauh dan menuliskan tentang apa yang aku rasakan..

Entah dari mana awalnya, aku bisa bertemu dan mengenal seorang wanita seperti dia. Jauh berbeda dari semua wanita yang pernah kutemui sebelumnya. Dia bahkan bukanlah orang yang aku harapkan masuk dalam kehidupanku.

Dia.. adalah seorang wanita yang menarik, dia mampu membuat hari-hariku lebih berwarna, dia adalah satu-satunya orang yang mampu membuatku bertindak tidak atas kehendakku. Dan satu hal yang aku suka dari dia adalah dia mampu menyembunyikan masalah di balik wajah cerianya.

Mungkin adalah sebuah kekonyolan yang mengawali semua ini, kita hanya saling bercanda satu sama lain dan tidak pernah berfikir akan menjadi sebuah keseriusan. Tetapi, lama-kelamaan aku menyadari kekonyolan ini tumbuh menjadi sebuah rasa, rasa yang berbeda dari sebelum kita mengenal lebih jauh, dan semakin besar tiap kali kita mengulanginya. Perasaan ini benar-benar sangat mengganggu. Aku bingung, apakah aku harus mengungkapkannya atau terus memendamnya sampai dia menyadari sendiri. Kurasa itu tidak akan pernah terjadi.

Sulit untuk menghentikan perasaan ini. Ini sudah terlalu jauh. Tiap kali kita bertemu, kita hanya saling tertawa tanpa pernah saling mengungkapkan. Semua sudah kucoba untuk menunjukkan kalau aku  menyayanginya. Tapi, entahlah.. mungkin dia hanya menganggapnya sebagai sebuah gurauan. Aku sudah berusaha serius dengan perasaanku meskipun ditanggapi hanya dengan sebuah senyuman. Tidak apa.

Jujur, saat ini aku merindukan dia.. aku merindukan senyumnya, tawanya, wajah cerianya, dan segala tingkah laku yang sebenarnya membuatku kesal. Meski terkadang membosankan, tapi aku senang mendengarkan dia bercerita tanpa henti karena dari situ aku bisa menatap keindahan wajahnya. Dia adalah salah satu alasan atas kebahagiaanku.

Mungkin aku yang terlalu berharap, atau memang seharusnya seperti ini saja. Kupikir rasa sayang seharusnya ditunjukkan saja bukan diungkapkan. Entahlah, hidup ini hanya sebuah siklus tentang "mendapatkan" dan "kehilangan". Jika perasaan ini harus berakhir dengan kehilangan dia, lebih baik aku tidak pernah mengawalinya.

Aku menyayanginya dan aku harap dia tidak pernah membenciku..




-R