Aku pernah tenggelam, terbawa oleh arus yang mengiringku kembali ke dalam dekapnya. Ombak yang masih sama seperti dulu. Tak ada yang berubah padanya kecuali keindahan hembusannya. Ia selalu menari bersama angin dan menyanyikan nada yang sama. Ombak senja yang kukenal pertama kali ketika menyusuri pantai.
Kali ini, aku kembali mendatangi tempat itu. Sekedar ingin mengetahui kabarnya. Ia menungguku seperti biasa di tepi pantai. Ombak biru itu menyapaku dengan ramah, menceritakan banyak hal dengan desirannya. membuatku terlarut dalam buai dan tak kuasa menghindari alunannya yang damai.
Aku mulai mencoba bermain dengan ombak. Kita sama-sama berjalan dengan langkah yang saling beriringan, menertawakan hal-hal yang tidak penting sambil menatap langit yang mulai senja. Kenangan-kenangan itupun seolah muncul kembali layaknya hujan di musim panas. Tak pernah kuharapkan, namun ia selalu datang membasahi kaki-kakiku.
Sebisa mungkin aku meyakinkan diriku untuk kembali. Sampai akhirnya rasa itu timbul. Rasa yang sama setelah sekian lama terlupakan dan terabaikan. Mengulang rindu yang dulu sempat terhempas oleh angin. Sungguh perasaan ini tidak main-main.
Tapi kenapa ketika semua itu terjadi, Ia tak membiarkanku tenggelam? Mungkin tidak ingin aku terseret oleh arusnya hingga terluka oleh karang. Haruskah aku pergi atau tetap di sini menunggu matahari terbenam? Entahlah... sikapnya seakan tak mengizinkanku untuk memeluk desirnya. Aku mencoba memahami tetapi basa-basi ini tampak seperti kebohongan. Riaknya yang kini menghanyutkan memunculkan prasangka seolah mengusir dengan halus.
Semuanya menjadi semakin jelas. Langkahku begitu berat untuk meninggalkan tapi Ia membuat jejakku hilang dari permukaan. Aku tidak pernah bermaksud akan jadi seperti ini. Masih banyak hal yang ingin kubagi dengannya dan aku tak sempat membiarkannya tahu itu.
Tapi satu hal yang pasti, rasa ini tak pernah hilang walau setitikpun.
